Minggu, 13 November 2011

Ketergantungan pada amal

Bismillahirrohmannirrohim,

   Hadist nabi muhammad SAW : "amal seseorang tidak akan mempu memasukkan orang itu ke surga". Yang bisa membawa orang ke surga adalah rahmat Allah SWT. Disini jangan sekali kali bepikiran kalau gitu percuma kita beramal, mending gak usah beramal. kalau itu terjadi maka maknanya kita berputus asa terhadap rahmat Allah SWT. Perintah Allah SWT dan keputusan Allah SWT tidak bisa di ukur dengan akal pikiran kita. Tetaplah beramal dan hasilnya serahkan sepenuhnya kepada Allah SWT. Anda jangan meninggalkan amal tetapi tinggalkan ketergantungan anda pada amal. Dengan begini kita akan bisa merasakan nikmatnya beramal. Jika beranggapan kita sudah memiliki amal sehingga kita meminta/menagih atau menukar amal kita dengan surga Allah SWT. Maka secara tidak sadar kita akan menempatkan kedudukan kita sama dengan Allah SWT dengan melakukan jual beli dengan-NYA. Puncaknya orang yang beramal adalah ketika dia puas pada saat dia beramal, urusan hasil itu urusan Allah SWT. Dari sini diambil kesimpulan jadikan amal sebagi tujuan bukan cuma suatu alat untuk mencapai hasil. jika kita berpikir demikian maka kita akan merasakan nikmatnya beramal.
    Tanda-tanda orang yang tergantung pada amal:
>> berkurangya harapan ketika adanya kesalahan dalam beramal.
    sebagian besar manusia akan berpikir "jika kita bekerja kerasa pasti akan dapat hasil yang bagus juga" bahkan "jika kita sudah beramal/beribadah dengan baik dan benar maka sudah pasti kita akan masuk surga". Anggapan seperti diatas itu mungkin benar, tapi menurut Al-hikam belum sepenuhnya benar. Disini kita lupa bahwasanya yang menentukan hasil adalah Allah SWT. yang berhak menentukan kita masuk surga atau bukan adalah Allah SWT. Dengan anggapan seperti diatas maka kita sudah memasuki wilayah Allah SWT untuk mengambil keputusan. Jika kita sudah terlalu yakin dengan amal kita maka kita akan terombang-ambing dengan amal kita sendiri. Suatu saat jika amal kita tidak sesuai dengan harapan kita, maka kita akan berputus asa dan lupa akan kebesaran dan kekuasan Allah SWT.


Oleh : umat muhammad SAW
Inspirator : DRS. KH. IMRON DJAMIL

PENDAHULUAN

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Berawal dari pembicaraan diantara kami (teman), kami mendiskusikan tentang ilmu yang masing - masing kami dapatkan. Awalnya kami mendapatkan perbedaan pendapat pada masing - masing orang, namun setelah kami renungi dan pahami, semua ilmu yang kami dapat seharusnya bisa membuat kita bahagia bukan malah membuat kita semakin merasa benar (sekalipun ternyata kita benar), teringat akan Literatur yang saya dapat tentang Agama, Realitas, dan Filsafat,...disitu dipaparkan bahwa seharusnya ilmu bukanlah untuk menjadikan kita semakin tidak percaya antara satu dengan yang lainnya, tapi ilmu seharusnya untuk kebahagian, kesejahteraan, dan ibadah kita.
Oleh karena itu kami sepakat untuk saling membagikan "apa - apa" yang kami dapat, dan berharap dapat mendiskusikannya dengan BENAR dan SEHAT, dengan tujuan untuk mendapatkan Hidayah dari ALLAH SWT, agar apa yang kami dapatkan bisa benar - benar beguna untuk semua termasuk kami didalamnya.
Disini saya mendapatkan tugas untuk membahas tentang Terjemah / Tafsir Al Qur'an menurut sumber - sumber yang dapat dipercaya.

Sebagai permulaan saya ucapkan Bissmillahirrahmannirrahim..

Tasawuf

Bismillahirrohmanirrohim,

Banyak yang berpendapat tentang apa itu tasawuf. Diluar semua perbedaan pendapat yang ada, saya hanya ingin mengajak marilah kita merasakan dengan hati kita masing-masing dan jangan cuma meghakimi tasawuf dari akal-pikiran, yang notabene akal pikiran manusia itu terbatas. Akal manusia tidak akan sanggup untuk menampung semua kebesaran-NYA. Belajar tasawuf berbeda dengan belajar fiqh yang secara garis besar berisi tentang aturan tentang benar atau salah. dengan anggapan bahwasanya kita sudah belajar fiqh maka dalam tasawuf kita belajar untuk merasakan nikmatnya beribadah (insyaallah). Pertanyaanya : Bagaimana kita bisa merasakan? logikanya kita akan bisa merasakan jika kita melakukan, jika belum melakukan akan sulit kita untuk bisa merasakan. Perlu digaris bawahi belajar tasawuf adalah untuk memperbaiki diri sendiri, bukan untuk mengkoreksi atau mengurusi orang lain. Sekali lagi marilah kira rasakan Ibadah dengan rasa bukan hanya dengan akal pikiran.

Oleh : Umat Muhammad SAW
Inspirator : DRS. KH. IMRON DJAMIL